Minggu, 16 September 2018 0 komentar

Kultwit #NIKAH oleh Ust Salim A Fillah


1. Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.
2. Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.
3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.
4. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah.
6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.
7. Jika kesiapan diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
8. Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah:
a. Ruhiyah,
b. ‘Ilmiyah,
c. Jasadiyah (Fisik),
d. Maaliyah (Finansial),
e. Ijtima’iyah (Sosial)
9. Persiapan perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.
10. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini.
12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan.
13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup.
Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.14. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.
15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.
16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya.
17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua.
18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu
19. Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi.
Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.
20. Jika masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.
21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”
22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?
23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumah tangga & masalah-masalahnya.
24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll
25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga
26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat,melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah
27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi.
28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah
29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja.
30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi.
31. . Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi.
32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.
33. Isteri: “Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla.”
Suami: “OK, kita cari pembantu. “
Istri: “O, jadi aku dianggap pembantu?!.”
Suami: “Lho?! “
34. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai.
35. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami.
Istri:” Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!”
36. -> Jawab suami: “Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri”
Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: “Tolong jemput Salma!”
37. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam).
Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar)
38. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius.
Lengkapnya di Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4
39. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu
40. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).
41. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. ie Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa.
42. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?”
43. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!”
-> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.
44. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!”
-> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar.
45. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!”
-> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P
46. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita.
Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9)
47. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk . Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.
48. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi
49. Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.
50. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang.
51. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus
52. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah
53. Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan;
a.PRIMER: sehat & aman penyakit,
b.SEKUNDER: bugar & tangkas,
c.TERSIER: beauty & charm;)
54. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana.
55. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal
56. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami.
57. Ingat & catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.
58. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.
59. Maka memulai pernikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.
60. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.
61. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten;
dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
62. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)
63. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu.
64. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.
65. Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)
66. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)
67. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta
68. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup.
69. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS
70. Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial.
71. Sebuah pernikahan yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.
72. Untuk itu, mereka yang akan me hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.
73. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait pernikahan & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.
74. Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri.
75. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin menikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf
76. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dll.
77. Pernikahan kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor.
78. Mulailah dgn perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah adl yg plg berhak diundang.
79. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jg dgn perkenalan.
Pr tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran.
80. Stl itu, target besarnya adl menjadikan pintu rumah kita sbg yang plg pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan.
81. Tentu berat menopangnya sendiri. Mk yang harus kita punya bkn hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan slg menguatkan.
82. Ilmuilah bgmn cr menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dll DEMI TETANGGA KITA
83. Tampillah sbg yang penting & bermanfaat dlm hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat.
84. Tampillah sbg yang terbaik sejangkau suai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dst
85. Tampillah sbg nan paling besar kontribusi dlm kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dst
86. Ringkas kata untuk persiapan sosial ini adalah bermampu diri utk menjadi pribadi & keluarga yg AMAN, RAMAH, BERMANFAAT
87. Tuntaslah KulTwit Persiapan yg diambil dr bagian awal buku Bahagianya Merayakan Cinta #BMChttp://bit.ly/gW5rG4
Semoga manfaat;)
0 komentar


Misi Keluarga Gen Halilintar


Banyak orang mengagumi keluarga Gen Halilintar, lalu ingin menirunya. Tetapi sayangnya yang ditirunya adalah HOW nya, bukan WHY nya sehingga kelak banyak gagal dan frustasinya.

Setiap keluarga sesungguhnya unik, jadi tiada yang bisa di "copy paste" dari keluarga lain kecuali kita memahami insightnya atau hikmah dari mengapa keluarga itu demikian, baru kemudian kita kontekskan dengan keunikan keluarga kita.

Jadi jangan tergesa meniru Gen Halilintar, yang keluarganya, sejak ayah sampai anak istri adalah para pebisnis yang "menyambar nyambar" kesempatan "dagang", namun temukan dulu gen keluarga kita, jangan jangan gen keluarga kita gen "hujan hujanan" yang suka memberi keberkahan daripada menyambar kesempatan, atau gen keluarga kita gen "awan" yang meneduhkan namun sering mendung alias baperan.

Tulisan ini hasil pengamatan saya pada sebuah talkshow, dimana bu Gen dan pak Hali menceritakan perjalanan keluarga mereka. Tulisan ini bukan sedang memuji muji sebuah kesuksesan keluarga, namun menggali sedikit pokok pengalaman keluarga mereka.  Semoga kita bisa menggali hikmahnya dan tidak asal meniru.

Sepintas Perjalanan

Sejak awal pernikahan, pak Hali bercerita, ia memang sangat suka bisnis. Sejak muda sudah banyak bisnis yang digeluti. Konon menurut bu Gen, ini yang membuatnya terpesona, bayangkan orang muda mandiri dengan serenceng bisnis yang berkembang. Wow.

Bu Gen belum selesai kuliah ketika dilamar, sebagaimana kebanyakan gadis modern kelahiran 70an, tentu mindsetnya seragam yaitu kuliah sampai selesai, lalu bekerja beberapa tahun kemudian cari jodoh.

Namun pak Hali melamar tanpa ampun, "menikah dengan saya" atau "kuliah", padahal bu Gen mendapat bea siswa bergengsi ke LN. Cerita selanjutnya sudah bisa dibayangkan, pasti keluarga besar bu Gen mengalami huru hara besar.

Akhirnya pernikahanpun terjadi. Pak Hali mengajukan proposal untuk punya 12 anak. Tentu saja bu Gen yang masih ingin santai santai dulu dan kerja dulu, terkejut. Namun lagi lagi, seorang istri yang mendukung misi suaminya, rela menerima proposal. Approved!  Di talkshow, anak bungsunya mengatakan dengan bangga, "itu keputusan terbaik dari ibu saya dalam hidupnya"

Kemudian, karena sesi mereka setelah sesi saya yang membahas the power of family mission, mc talkshhow itu, menanyakan the family mission statement keluarga Gen Halilintar. Ketika pak Hali ditanya, apa misi keluarga Gen Halilintar, pak Hali nampak bingung dengan maksud misi keluarga dari pertanyaan, namun menjelaskan dengan sederhana, "kami ingin mendidik dan membesarkan anak anak kami agar menjadi pengusaha yang bertaqwa". 

Nah jelas sudah, sinkron dan konsistn antara perjalanan hidup sejak muda, sampai berumah tanggà dan mendidik anak.

Misi keluarga itu nampak ajeg dalam diri pak Hali, karena berangkat dari misi personal sejak muda dan sangat ingin ditularkan kepada anak anakmya. Semua hal yang terjadi di dalam rumahnya selalu dijadikan kesempatan untuk mengembangkan bisnis sekecil apapun. Itu semua adalah dalam rangka menjalani misi keluarganya.

Nah begitulah seharusnya seorang ayah, seorang suami, memiliki misi keluarga yang jelas. Bukan sekedar statement semata yang ditempel di dinding, namun sudah menjadi "believe" atau keyakinan sejak muda yang dijalani dengan sungguh sungguh.

Pak Hali bercerita, bahwa setiap habis sholat shubuh, ia meng"coach" anak anaknya satu persatu. Memberikan arahan dan keyakinan, bahwa bisnis itu hanyalah wasilah untuk semakin taqwa kepada Allah, maka fokus saja memberi manfaat. Kemudian memberikan solusi solusi atas berbagai macam masalah bisnis anak anaknya, namun bukan mendikte tetapi dengan cara mendorong anak anaknya untuk menemukan solusinya sendiri.

Begitulah seorang ayah sejati, ia adalah "a man of mission n vision". Tugas utama seorang Ayah adalah "find the mission", "show the mission" and "lead the mission". Ayah juga penanggungjawab utama pendidikan. Narasi narasi besar peradaban harus keluar dari tutur sang Ayah. Tidak perlu panjang namun dalam dan bermakna.

Sayangnya, kebanyakan orang kemudian melihat keluarga ini sukses secara materi, lalu menyangka orientasi keluarga ini materi dan menirunya, lalu menjadi obsesi.

Perhatikan, bu Gen bercerita bahwa pernah keluarga itu terpuruk, habis habisan ditipu rekan bisnis. Itu terjadi ketika anak anak mereka sudah 8 orang. Kejadian itu begitu parah sampai anak mereka tak membayar sekolah berbulan bulan. Namun keluarga ini tak merubah sedikitpun misinya, mereka tetap konsisten untuk menjalani misi keluarga.

Pada saat saat sulit inilah, bu Gen, sang istri tetap mendukung Misi suaminya. Perhatikan betapa bu Gen mendukung penuh misi suaminya. Bukan hanya mendukung tanpa usaha, bu Gen juga ambil alih untuk mendidik anak anaknya sendiri dan terlibat dalam bisnis keluarga.

Hikmah (Insight)

1. Suami atau Ayah idealnya  sejak muda sudah punya misi personal yang kokoh, dijalani dengan sungguh sungguh sehingga kompeten. Misi personal ini bukan hanya terkait bakat berupa peran profesi atau wirausaha tetapi juga terkai fitrah keimanan berupa peran menyeru kebenaran untuk perubahan, terkait juga dengan fitrah keayahbundaan berupa peran mendidik anak sesuai fitrahnya.

2. Misi personal Ayah kelak ketika menikah harus menjadi misi keluarga, kemudian menjadi family business yang diperjuangkan bersama dan diwariskan kepada keturunan sebagai sebuah legacy. Sebagai catatan bahwa family business bukan terkait dengan komersialisasi, tetapi bagaimana mendeliver karya solutif dan manfaat dari misi keluarga dengan lebih manageable, berkualitas dan sustainable.

3. Ayah bukan hanya "A Man of Mission and Vision", tetapi iapun harus turun tangan menunjukkan dan memimpin bagaimana Misi itu bekerja. Find the Mission, Show the Mission dan Lead the Mission. Itulah mengapa misi hidup personal ayah sebaiknya dijalani dan diyakini sejak muda. Dalam pandangan ini maka peran Ayah adalah Penanggungjawab Utama pendidikan di keluarga.

4. Ibu bertanggungjawab menurunkan Misi Besar sang ayah menjadi program, proyek dan aktifitas keseharian di rumah. Bahkan tiap anak dirancangkan kurikulum personal masing masing yang relevan dengan bakat masing masing dan juga relevan dengan Misi Besar Keluarganya.

5. Sukses misi suami ada pada ketulusan sang istri mendukung misi suaminya itu berkali kali, baik di kala lapang maupun di kala susah. Maka Allah ridha dan kelimpahan dunia hanyalah bonus semata sementara cinta suami istri itu semakin dalam, indah dan kokoh di dunia dan di akhirat.

Salam Pendidikan Peradaban

========================================
Sebuah tulisan yang dishare oleh seorang shabat di grup WA Sekolah Bidadari Surga
Selasa, 28 Agustus 2018 0 komentar

Butuh waktu apa lagi..?


أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ
فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ - 57:16

Q.S. Al-Hadid : 16

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran
yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang
yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.
Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
Rabu, 07 Februari 2018 0 komentar

Mempersiapkan diri

Ketika akan ada amanah berat yang siang ditanggung...
Ketika akan ada banyak hal yang akan menguras energi dan pikiran.. 

Persiapkanlah...
Persiapkanlah,...
Persiapkanlah...

Siapkan hati yang lapang dengan niatan ketaatan untuk kehidupan kekal nantinya
Siapkan jiwa yang tenang yang dengannya akan memberikan rasa sakinah nantinya
Siapkan Ilmu yang dengannya semua akan menjadi pondasi yang utuh

Semangat mempersiapkan hikmah :)


#catatanhikmah #hikmah2018 #resolusihikmah2018
Senin, 22 Januari 2018 0 komentar

Kenapa harus ngerasa remuk dalam kesendirian?? Bukankah ada Allah??!

{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ} [الملك : 13]

Mendekatlah diri kepada Allah wahai diri..

Minggu, 21 Januari 2018 0 komentar

Postingan Pertama 2018

Assalammu'alaikum shalihah...

Tgl 21 Januari 2018 adalah hari postingan pertama di awal tahun 2018.

Bukan ingin soal cerita apa-apa hanya ingin bikin self reminder ajaa bahwa Mudah-mudahan dari air mata yang mengalir ini ada untaian pahala didalamnya..

aamiin yaa Rabb..

 
;